Indonesia mulai belajar berdemokrasi, 10 tahun berlalu sudah sejak tahun 2004. Presiden kita yang dipilih oleh seluruh rakyat nusantara adalah sosok yang tinggi besar, ganteng. Begitu banyak harapan tertumpu pada beliau, begitu banyak mimpi-mimpi tinggal landas dapat diteruskan seperti mimpi Pak Harto. Kalau kita melihat sosok profil pemimpin nasional kita pastilah punya modal dasar ganteng seperti dimiliki Bung Karno, Pak Harto, dan SBY. Mungkin itulah sebabnya kenapa Megawati dapat kalah pada tahun 2004 lalu, tetapi kita harus mengakui bahwa itulah pilihan rakyat terbanyak. Pertanyaannya, setelah 10 tahun menjatuhkan pilihannya dulu dua periode, apakah rakyat telah belajar memilih pemimpinnya yang amanah, atau mayoritas rakyat masih seperti bermimmpi memilih "CALON RAJA" Indonesia yang sebenarnya bukan melayani kebutuhan rakyat, atau memang mayoritas bangsa ini lebih senang memilih seperti dulu, yakni yang ganteng dan tampak luarnya kharismatik seperti seorang "RAJA".
Yah, kita harus mengakui demokrasi dunia yang terbaik adalah di Amerika Serikat, disana jangan harap modal ganteng tinggi besar dapat menarik pemilih demokrat atau republik, karena 200 juta penduduk Amerika adalah pemilih-pemilih yang kritis, mereka dapat membedakan kerbau penakut atau banteng aduan, harimau atau elang, suatu kepemimpinan yang diharapkan membawa perubahan nasib ke depan. Apakah Obama memberikan perubahan kepada bangsa dan negaranya, apakah SBY memberikan porsi yang cukup bagi ruang kemajuan Indonesia ke depan atau malahan negara dan bangsa ini sebenarnya selama 10 tahun dalam kondisi auto-pilot, sejarah akan menjawabnya.
Kenapa penduduk Jabodetabek yang diwakili oleh wakil-wakil rakyat yang duduk di DPRD, DPR, dan DPD tidak begitu kritis dibandingkan dengan penduduk Singapura terhadap masalah transportasi publik. Pada tahap belajar demokrasi ini, untunglah masih ada Komisi Pemberantasan Korupsi yang memberikan suatu tingkat kepercayaan diri tinggi bahwa bangsa ini masih kritis terhadap sesuatu tindakan koruptif yang akan merusak masa depan bangsa.
Ketika Gubernur DKI Jakarta akhir 2013 memberikan instruksi kepada jajarannya untuk memakai kendaraan umum pada setiap hari Jumat setiap awal bulan, apakah gaungnya terdengar di telinga wakil-wakil rakyat dan para kepala-kepala daerah lainnya. Instruksi ini sebenarnya sangat bersejarah bagi bangsa ini. Bahwa memakai kendaraan pribadi dengan BBM subsidi itu memberikan kemacetan yang parah di Jabodetabek, bahwa BBM subsidi itu telah menghabiskan sia-sia devisa negara dengan cara berhutang luar negeri. Sosok pemimpin sejati itu selalu mempunyai terobosan walaupun tindakannya itu tidak populis pada awalnya. Tetapi kenapa pemimpin-pemimpin yang mulai menyapa kebutuhan publik, itu adalah makhluk-makhluk yang langka di Indonesia ini. Yang kita lihat saat ini adalah suatu kontras ketika sosok Akil Mochtar sang pemimpin majelis mulia konstitusi republik ini malahan memberikan sejarah kelam. Bayangkan Rp 200 milyar tindakan korupsi pencucian uang yang dituduhkan kepadanya itu, dilakukan dalam tempo hanya 2 tahun, spektakuler sekali.
Apakah kita pesimis akan lahirnya pemimpin dan wakil rakyat yang mulai menyapa kepentingan publik pada pemilihan umum April 2014 ini. Saya sendiri yakin bahwa pesimis hasil pemilu akan melahirkan sosok profil yang diharapkan itu. Buktinya sederhana, lihat saja berapa modal awal caleg DPR itu, Rp 1 milyar atau Rp 2 milyar atau bahkan lebih. Jadi 10 tahun belajar demokrasi itu tidaklah cukup.

















