Begitu dekatnya kota metropolitan Singapura dengan kota Jakarta, begitu jauh perbedaan hasil kemajuan peradaban transportasi publiknya, tidak tanggung-tanggung perbedaanya, 44 tahun. Pada tahun 1970, transportasi Singapura yang amburadul itu mulai dibenahi serius oleh pemimpinnya saat itu yang masih dipimpin oleh PM Lee Kuan Yew, 25 tahun kemudian tepatnya tahun 1995, transportasi umum yang modern dibawah naungan satu induk otoritas angkutan massal bus kota dan MRT digabungkan, yang bernama LTA (Land Transport Authority) Singapura, diresmikan oleh PM Goh Chok Tong. Kalau penduduk Singapura itu 10 juta, dapat dibayangkan oleh 50 persen penduduknya memakai kendaraan pribadi, logika berfikir yang sama seharusnya berlaku untuk penduduk Jabodetabek. Kepemimpinan nasional yang kuat diperlukan untuk menata ibukota, untuk mencapai tujuan peradaban yang sangat mulia, yakni menjadikan ibukota sebagai anggota masyarakat global yang mengurangi konsumsi bahan bakar minyak dan mengurangi polusi. Seorang seperti Lee Kuan Yew atau Goh Chok Tong sebagai panglima/pemimpin tertinggi negara kota Singapura sangat diperlukan untuk mencapai tujuan mulia tersebut mengikuti standar kota metropolitan dunia lainnya.
Terus-terang dalam hati saya, melihat kepimpinan itu dengan referensi dari kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ketika berhasil menangkap tangan ketua Mahkamah Konstitusi dan ketua SKK Migas yang juga merupakan lembaga kepemimpinan negara. Kemudian ketika pemilihan kepemimpinan propinsi DKI Jaya tahun 2012 lalu, inilah menjadi referensi kepemipinan yang sinergis untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment