Apa salahnya kalau kita boleh bermimpi indah jauh ke depan menerawang masa depan cerah kota metropolitan Jabodetabek, kita harus tetap optimis bahwa transportasi publik menjadi moda pilihan utama, bangsa ini harus sadar melihat bahwa masa depan kendaraan bahan bakar minyak bukan lagi alat transportasi yang ekonomis, bangsa ini harus keluar dari jeratan permintaan BBM yang disubsidi, bangsa ini harus menjadi anggota dunia yang mendukung penghematan sumber daya alam, mengurangi polusi, dan tentunya mengurangi pemanasan global.
Studi kereta api bawah tanah MRT (Mass Rapid Transport) Jakarta sudahlah banyak dilakukan. Ground-breaking memulai pembangunan MRT Jakarta sudah dimulai akhir tahun 2013, banyak pertanyaan kenapa dipilih jalur elit dari Lebak-Bulus ke Kota, kenapa bukan jalur masif dari Bekasi-Kota-Tangerang sehingga BEP investasinya cepat tercapai.
Biaya investasi MRT pada tahun 2013 ini diperkirakan Rp 135 milyar per km, sebagaimana jalur Lebak-Bulus ke Kota yang hanya 110 km, tentunya jalur ini akan diperpanjang untuk menjangkau kawasan Bintaro terus ke BSD. Warga Jabodetabek tentunya mengharapkan jalur-jalur yang lain seperti misalnya jalur Cikarang-Bekasi-Kota, jalur Cibubur-Kota, jalur Tiga-Raksa-Tangerang-Kota, jalur Depok-Kota.
Tentunya semua studi tentang MRT sudah ada alternatifnya, kalau saya menulis daftar nama kota tersebut hanyalah suatu ungkapan bahwa MRT dan BRT itu haruslah efektif dapat membawa konsentrasi para commuters dari wilayah perumahannya sampai ke wilayah tempat kerjanya ( kawasan CBD dan kawasan industri). Ingat kawasan industri di Jabodetabek ini merupakan kawasan dengan tingkat kemacetan yang parah juga, sayangnya studi tentang kemacetan wilayah kawasan industri di Jatake, Cikarang, Jababeka masih kurang, padahal tingkat kemacetan di kawasan industri memberikan dampak negatif persaingan global.
Apakah dengan tersedianya 5 jalur MRT yang membelah Jabodetabek akan mengatasi kemacetan, Cobalah kita bayangkan pada tahun 2024 seperti apa, ketika harga BBM premium sudah mencapai Rp25.000 per liter, ketika transportasi bus-kota dan angkot masih amburadul seperti sekarang.

No comments:
Post a Comment