Sunday, 26 January 2014

SUBSIDI IDIOT BBM ALA INDONESIA


Kalau pemimpin nasional berbicara di depan publik dan mengatakan janganlah suka mengolok-olok kebodohan bangsa ini. Janganlah suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri, janganlah suka merendahkan kemampuan bangsa sendiri, janganlah suka menghinakan bangsa sendiri. Inilah suatu contoh buruk dari kepemimpinan nasional yang tidak bisa berfikir rasional karena berbicara didepan publik tanpa suatu referensi ukuran yang terukur. Kalau mengolok-olok kebodohan bangsa sendiri dengan referensi ukuran yang terukur terhadap kemampuan bangsa lain, tentunya hal ini adalah sesuai hukum alam, seleksi alamiah dari hasil peradaban manusia. Kalau saya berani mengatakan bahwa subsidi idiot BBM ala Indonesia, tentunya ada ukuran result oriented dari mulai diberlakukan subsidi sejak tahun 2004 sampai tahun 2014 menjelang berakhirnya 10 tahun pemerintahan SBY. Apa hasilnya subsidi BBM selama 10 tahun untuk bangsa Indonesia, apa tujuan untuk membatasi dan mengurangi konsumsi BBM sudah tercapai, apakah transportasi publik di Jabotabek sudah menjadi pilihan masyarakat, apakah program pembatasan mobil pribadi dengan ERP system sudah siap diterapkan.

Hampir 50 tahun sudah transportasi publik di Jabotabek hancur-lebur, karena kondisinya sama dengan Singapura tahun 1970, dan tibalah saatnya bahan bakar minyak sudah menjadi barang mewah global. Lantas bangsa ini mencoba melawan hukum alam, ingin memberikan subsidi BBM yang tidak terkendali sementara produksi mobil berbahan bakar BBM digenjot terus. Kalau perintah pembatasan mobil pribadi hanya inisiatif gubernur DKI Jakarta, bukan dari kepemimpinan tertinggi dari negara Indonesia, maka bangsa ini hanya menunggu bom waktu dari kebijakan idiot subsidi BBM yang tidak terencana dan terkendali. Suatu tipikal kepemimpinan yang mudah panik takut didemo lengser dari jabatannya, tetapi tidak berbuat apa-apa terhadap suatu perubahan alam yang mendasar. Bahwa teknologi industri apapun yang tergantung bahan bakar minyak akan segera berakhir, bahwa bangsa yang cerdas harus menyongsong suatu era baru untuk menghemat sumber daya alam khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batubara), karena hukum ekonomi terhadap kelangkaan itu mahal ongkosnya. Bayangkan kalau emas ada dimana-mana seperti besi, tentunya harga emas akan turun drastis, jadi sama halnya dengan minyak bumi.

Jadi emergensi transportasi publik itu sangatlah jelas, kenapa penguasa negeri terus menerus mengaburkan masalah sebenarnya, seperti membodohi masyarakat dengan GREEN CAR yang diperkuat dengan Keputusan Menteri Perindustrian. Hanya di Indonesia, pemerintahnya berani membodohi rakyatnya dengan menyatakan bahwa GREEN CAR adalah termasuk kendaraan berbahan bakar minyak denga emisi rendah. Ketika penguasa negeri ini dijerat oleh kartel industri ATPM mobil Jepang dengan dalih "inkubator industri TKDN", maka apapun akal gurita ATPM pemakan BBM subsidi akan dilakukan. 

Mari kita bandingkan dengan kebijakan pemerintah China yang up-to-date tentang GREEN CAR dengan energi terbarukan. Menurut analisa Barat, China akan menguasai industri otomotif pada tahun 2020 dengan GREEN CAR standar Eropa.

 

             

No comments:

Post a Comment